Kemarin saya beserta teman-teman program kepemimpinan LPDP melakukan ekskursi ke salah satu bank terbaik di Indonesia, yaitu Bank Mandiri. Kami melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dari wisma tempat kami menginap di daerah Kelapa Dua sampai gedung Graha Mandiri di Sudirman. Pertama kali kami datang, panitia acara dari Bank Mandiri menyambut kami dengan hangat dengan pelayanan yang sangat memuaskan sehingga menjadi salah satu pengalaman menarik selama mengikuti program kepemimpinan ini.

Secara garis besar ekskursi kami ke Bank Mandiri terdiri dari tiga sesi. Pertama, para direktur Bank Mandiri memberikan pemaparan secara mendalam mengenai seluk-beluk Bank Mandiri, mulai dari sejarah pembentukan Bank Mandiri, change management atau proses transformasi yang dilakukan, perkembangan bisnisnya, hingga penjelasan mengenai pentingnya human capital terhadap pertumbuhan sebuah bangsa dan perusahaan beserta program-program employee empowerment yang dimilikinya. Dengan pembicara Bapak Ogi Prastowiyono selaku Compliance and Human Capital Director,  kami dijelaskan mengenai posisi sumber daya manusia yang semakin penting dalam sebuah Negara dan perusahaan, terutama SDM dengan usia produktif (128 juta). Dengan semakin banyaknya usia produktif di Indonesia dan posisi perekonomian Indonesia yang masuk ke dalam 20 besar di seluruh dunia, ini merupakan peluang yang besar untuk semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai peringkat ke-7 di dunia pada tahun 2030 sesuai dengan prediksi dari McKinsey. Dari situlah Mandiri sudah bisa melihat potensi luar biasa dari SDM terhadap pertumbuhan bisnisnya. Oleh karena itu, Mandiri sudah mulai menerapkan Employee Value Proposition yang berarti perlakuan karyawan sebagai bagian dari asset penting perusahaan. Kata beliau, ada beberapa aspek-aspek penting yang menjadi sorot dalam delivery EVP ini, yaitu aspek fisik, intelektual, emosional, dan yang terpenting spiritual. Beberapa program yang dimiliki Mandiri dalam pencapaian EVP ini, seperti pembentukan komunitas, empowerment dalam hal edukasi, dan fasilitas ramah lingkungan. Selain itu, dalam prosesnya, Bank Mandiri juga membuat change agent yang merupakan karyawan-karyawan terbaik pilihan Mandiri untuk membantu 4 orang kawan lainnya dalam membantu menanamkan values perusahaan kepada mereka.

Materi menarik selanjutnya adalah mengenai transformasi Bank Mandiri yang disampaikan oleh Bapak abdul Rachman selaku Institutional Banking Director. Beliau menjelaskan bahwa bank di Indonesia masih memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian Negara karena 80% - 90% GDP Indonesia berasal dari perbankan, sedangkan sisanya berasal dari pasar modal yang sangat kecil. Menceritakan sejarah sedikit, beliau mengatakan bahwa Bank Mandiri ini sebenarnya merupakan hasil merger dari 4 bank yang dulu hampir bangkrut. Kesempatan inilah yang dilakukan oleh direktur Bank Mandiri untuk melakukan perubahan secara total terhadap bisnisnya. Pada saat itu, untuk menghindari adanya rasa fanatic terhadap banknya masing-masing, akhirnya diputuskan bahwa direktur utama dari Bank Mandiri tidak boleh berasal dari keempat bank yang merger tersebut. Selain itu, semua direktur juga diganti, kepala cabang dari suatu bank tidak boleh ditempatkan di bank asal mereka, dan implementasi TI masih belum terlalu canggih. Sesi pertama diakhiri dengan lunch dan kemudian dilanjutkan dengan keliling-keliling beberapa departemen di Bank Mandiri.

Setelah makan siang, saya dan teman-teman mengunjungi Executive Business Center sebagai kunjungan pertama saya dan beberapa teman. Di sini kami diinfokan mengenai profil Bank Mandiri, perkembangan bisnis, perkembangan nilai-nilai, dan perkembangan teknologi. Selanjutnya, kami diajak melihat Treasury Group. Selain itu, kami juga diajak berkeliling ke IT helpdesk and command center yang merupakan divisi TI dari Bank Mandiri. Divisi ini berfungsi sebagai pengontrol dan pemberi servis TI bagi customer internal Mandiri di seluruh Indonesia.

Materi selanjutnya adalah mengenai financial literacy dimana kami diberi ilmu-ilmu baru mengenai pengelolaan keuangan dengan pembicara Ibu Yana. Beliau mengatakan bahwa kepintaran keuangan adalah sebuah proses mental bagaimana kita menyelesaikan masalah keuangan kita, dan intelegensi keuangan ini tidak sebanding dengan kemampuan akademik. Melalui perencanaan keuangan, kita akan bisa mengatur hidup kita dengan lebih baik. Lalu, bagaimana caranya? Tetapkan tujuan dari pengeluaran kita, kalau bisa pada setiap harinya. Usahakan jangan terlalu berlebihan tapi juga jangan terlalu pelit. Selain itu, selalu catat anggaran keuangan kita dan pengeluaran kita. Hal ini dapat membantu kita untuk mengontrol pengeluaran sehingga kita bisa menyisihkannya untuk simpanan. Simapanan tersebut juga bisa berfungsi sebagai dana darurat jika terjadi musibah atau lainnya. Kita juga bisa mencoba berinvestasi sebagai bentuk lain simpanan masa depan, bisa berupa investasi rumah, emas, maupun reksa dana. Kemudian materi dilanjutkan oleh Bapak Ahmad Benyamin yang menjelaskan mengenai tata cara menabung, internet banking, dan sejenisnya sebagai persiapan kami yang mau pergi ke luar negeri. Beliau juga menjelaskan mengenai penggunaan e-money dan outlet-outlet mana saja yang bisa kita kunjungi dengan menggunakan e-money tersebut. pssstt..kita kemarin juga dapat gratisan e-money lho.

Overall, itu aja sih kegiatan kami seharian. Meskipun hanya sehari, tapi terasa sangat menyenangkan. Itung-itung perbaikan gizi selama disana.Hehe..


Materi terakhir yang diberikan di program kepemimpinan LPDP kemarin lusa (30 Juni 2013) tidak kalah seru dengan materi-materi sebelumnya. Dengan pembicara dari seorang entrepreneur yang jago di bidang online marketing terutama SEO (Search Engine Optimization), Bapak Yunus Bani Sadar, berbagi ilmu mengenai penyampaian knowledge sekaligus personal branding melalui social media. Menurut data yang dimiliki oleh beliau, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2013 telah mencapai 70 juta orang, dengan pengguna Facebook sebanyak 54 juta orang, pengguna Twitter sebanyak 25 juta orang, dan pengguna mobile device, khusus Blackberry dan Android, sebanyak 12 juta orang. Belum lagi ditambah dengan semakin banyaknya invasi-invasi dari multinational companies yang bergerak dengan menggunakan teknologi internet sebagai media business model-nya, seperti pembukaan kantor Google di Indonesia, peluncuran Dakota oleh Blackberry di Indonesia, maraknya e-commerce luar yang menjadikan Indonesia sebagai target market mereka, dll. Nah, dari data-data tersebut kita harus kreatif nih, bagaimana caranya mengubah invasi tersebut menjadi sebuah potensi untuk melakukan personal branding.

Lalu, gimana sih caranya untuk bisa membuat personal branding itu? Kalau menurut Bapak Yunus, rumusnya adalah ‘getting found’ dan ‘consistent’! Dengan kemajuan teknologi internet dan banyak digunakannya social media kita harus turut aktif di dalamnya sehingga orang lain bisa dengan mudah menemukan dan berinteraksi dengan kita, sedangkan konsisten berarti kita harus istiqomah dalam ‘beraktivitas’ di sana. Kenapa harus socmed? Pertama, karena socmed tidak memiliki batasan apa pun dalam hal tujuan penggunaannya (no boundaries). Kedua, socmed tidak memiliki keterbatasan jarak (no distance). Terakhir, karena socmed tidak memiliki batasan waktu (no time limit). Artinya, setiap orang bebas menggunakannya untuk kepentingan apa pun, dimana pun, dan kapan pun. Internet, khususnya dalam kasus ini adalah socmed, sangat melegalkan kebebasan. Oleh karena itu, penggunaannya benar-benar tergantung pada si penggunanya, apakah akan digunakan sebagai media untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Analoginya seperti sebuah pisau. Benda tersebut bisa digunakan sebagai mengiris roti, mengoles selai, atau untuk menusuk orang.

Dalam pembahasan singkat materi ini, Pak Yunus hanya membahas 3 socmed yang paling sering digunakan orang (tanpa ada urutan). Pertama adalah blog. Saya yakin kalian semua sudah pada tau apa itu blog tapi nggak semua tau blog yang bagus itu yang seperti apa. Pak Yunus menyebutkan tiga parameter yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah blog kita tergolong great blog atau tidak, yaitu content yang berarti kualitas isi tulisan dalam blog kita, traffic yang berarti seberapa sering blog kita dikunjungi oleh orang lain, dan design yang berarti user interface atau tampilan dari blog kita. Untuk manajemen blog sendiri, Pak Yunus memiliki sebuah life cycle yang bisa kita tiru, yaitu ide, tulis, bagikan, lalu evaluasi. Lalu, bagaimana cara kita untuk menaikkan traffic blog kita? Karena search engine yang paling banyak digunakan oleh orang di seluruh dunia adalah Mbah Google, maka cara paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan menaklukkan si Mbah, dengan penggunaan keyword, content, dan optimization (atau yang sering dikenal dengan SEO). Oleh karena itu, untuk bisa menjadi Google friendly blog, blog teman-teman haruslah mengikuti trends, keyword-minded, informative, fresh, dan up-to-date.
Kemudian yang kedua adalah Facebook. Pada punya akun Facebook dong? Socmed yang satu ini memang terkenal sebagai socmed yang paling banyak digunakan oleh orang sebagai media interaksi, sebagai media bisnis, maupun sebagai media narsis. Beberapa tips penggunaan Facebook yang baik oleh Bapak Yunus, antara lain:
  1. Gunakan username dan profil yang jelas!
  2. Buat konten; baik berupa status, tulisan, maupun gambar; yang shareable, interactive, dan memiliki pesan positive.
  3. Jangan suka tag foto ke orang lain kecuali foro tersebut memang foto bersama (no photo tagging).
  4. Gunakan akun untuk berinteraksi dengan kolega kita atau page untuk berinteraksi dengan khalayak umum bagi seorang tokoh.
  5. Usahakan membuat satu konten setiap satu jam.
  6. Gunakan quiz/polling/questions untuk menghindari kebosanan dan menarik perhatian.

Lain halnya dengan Twitter. Socmed ini bukan dijadikan untuk menjadi media narsis layaknya Facebook karena Twitter sendiri memang intensinya untuk bernarsis ria. Socmed ini lebih digunakan sebagai media interaktif, media branding, dan media sharing. Untuk tips penggunaannya sendiri, menurut Bapak Yunus, sebaiknya kita menggunakan username 3S (short, simple, straight), buat tweet yang positif dan menghibur, reply dan re-tweet postingan follower maupun following kita, selalu folback real followers kita, adakan kultwit minimal sekali sehari, dan hindari twitwar.


So, are you ready for being famous? :D




Siapa yang sudah pernah bikin presentasi, ngacung!! Dan semua orang yang ada di dalam ruangan pun mengangkat tangannya mendengar komando dari pembicara yang mengawali materi kami kemarin lusa (30 Juni 2013). Ya, kami tadi belajar mengenai bagaimana membuat presentasi yang menarik sehingga dapat memberikan dampak yang membekas terhadap audience. Materi ini dibawakan oleh seorang penulis buku dengan judul yang sama dengan tulisan ini, Bapak Tedy J. Sitepu.

Beliau memaknai presentasi sebagai sebuah media untuk menyampaikan/ menyajikan makna dari apa yang mau kita sampaikan. Tapi fenomenanya saat ini, banyak sekali kita temui presentasi-presentasi yang sama sekali tidak menarik perhatian kita, yang bisa menyebabkan kita menguap atau bahkan tertidur, misalnya slide kuliah. Eh, ini mah emang dari sononya nggak bakal menarik. #ups

Sebenarnya apa sih yang membuat sebuah presentasi itu dikatakan buruk? Menurut Pak Tedy, ada lima penyebab. Pertama, tidak adanya konsep yang ingin dibangun dalam presentasi kita. Untuk itulah, ketika akan membuat presentasi, kita harus menentukan terlebih dahulu apa tujuan dari presentasi kita agar saat dipresentasikan nantinya, ada alur/ arah yang bagus yang bisa diikuti oleh audience. Kedua, terlalu banyak ornamen sehingga malah terlihat norak. Gara-gara kita tertarik dengan gambar-gambar lucu atau background yang bermotif-motif terus kita masukkin aja semuanya ke dalam slide presentasi kita. Jangan! Karena desain yang kita pakai itu harusnya hanya ditujukan untuk memperkuat makna presentasi kita, dan bukannya untuk dekorasi. Apabila memang tidak diperlukan, ya nggak perlu dipakai. Ketiga, terlalu penuh kontennya. Kebanyakan orang pengennya simple (atau nggak mau susah?), tinggal tuang semua yang ada di makalah ke dalam slide sampai tumpah-tumpah. Saya pernah mengikuti sebuah international conference dan semua slide presentasi para speaker berwarna BW dan setiap slide isinya full dari ujung kiri atas sampe kanan bawah dan itu sangat tidak menarik menurut saya. Lalu yang keempat adalah terlalu banyak data. Ini nih kebiasaan mahasiswa. Please tapi bukan gue. Biar keren gitu kan kelihatannya kalau datanya banyak. Semakin ruwet semakin sophisticated, katanya. Padahal sebenarnya data-data itu biarkan saja audience yang membaca dari hand-out/ makalah saja. Terakhir, tidak memiliki jiwa. Apa maksudnya? Kurang hidup. Kurang interaktif. Kurang bermakna. Akibatnya apa? Audience akan lebih memilih untuk bemain gadget, ngobrol, atau bahkan tertidur di ruangan.

Lalu, komponen penting apa yang perlu diperhatikan dari sebuah presentasi yang efektif? Pak Yunus menyebutkan empat, yaitu: 1) presenter (bagaimana pun situasinya di lapangan, presenter harus tetap semangat), 2) interaksi (lakukan eye contact, senyum, dll), 3) makna (apa yang ingin kita sampaikan melalui presentasi kita), dan 4) media (means/ sarana yang kita gunakan untuk melakukan presentasi tersebut). Oleh karena itu, salah satu poin penting dalam menyampaikan presentasi adalah dengan melakukannya secara efektif sehingga bisa memberikan impact. Yang bagaimana presentasi efektif itu? Yaitu, harus impressive atau mampu menarik perhatian audiene, powerful atau harus memiliki energy positif yang kemudian disalurkan kepada para audience, actual/ contextual dimana semua data harus menunjukkan pengetahuan paling terkini dan relevan dengan audience, serta trustworthy dimana ada kepercayaan terhadap data, pendapat, usulan, dsb.

Selain itu, untuk membuat presentasi kita lebih bagus, kita juga harus membuat desain yang baik sebagai pendukung presentasi kita.  Beberapa aspek desain yang perlu diperhatikan adalah layout dimana kita bisa menerapkan teori balance dan grid design yang dapat memberikan keseimbangan tata letak pada work area slide, fonts (pilih yang umum dan jangan menggunakan terlalu banyak jenis font), warna (gunakan perpaduan warna yang baik), images (gunakan gambar sebagai pendukung pesan, bukan sebagai ornamen), dan charts (gunakan chart 2 dimensi saja).

Yang terakhir, selain pembagusan dari segi teknis, performa si presenter juga perlu diperhatikan. Beberapa saran dari Pak Tedy untuk menjadi good presenter, antara lain:
  1.  Treat your audience as a king
  2. Spread ideas and move people
  3. Help them see what you are saying
  4. Practice design, not decoration
  5. Cultivate healthy relationship 

Image's source: http://www.businessenglishpod.com/wordpress/wp-content/uploads/bigstockphoto_Mature_Business_Man_Giving_Pre_5212277.jpeg

Saya yakin pasti mostly dari kalian pernah dengar tentang publikasi ilmiah. Ya dong..Ya kan? Entah itu pernah dengar dari gosip-gosip dosen yang selalu bisa bikin mahasiswa sumringah gegara dosen nggak bisa ngajar kelas, atau pernah tahu dan lihat langsung presentasi-presentasi riset di conferences internasional meskipun sebenarnya niatnya cuma buat jalan-jalannya doang, atau bahkan pernah bikin gegara terpaksa disuruh kampus biar bisa dapet ijazah. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan sedikit share mengenai academic writing, khususnya mengenai penelitian yang dijadikan publikasi ilmiah, yang beruntung saya dapatkan dari diskusi dengan Prof. M. Nasikin, guru besar Universitas Indonesia, pada program kepemimpinan LPDP hari ini.


Kalau kata Bapak Nasikin, hal pertama yang harus kita siapkan adalah rasa kesukaan terhadap penelitian itu sendiri. Bagi yang memang punya passion di bidang research mungkin ini merupakan hal yang sudah tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, bagi teman-teman yang baca paper satu aja sudah mau lempar kursi saking eneg-nya, rasa kesukaan ini mau tidak mau harus ditumbuhkan, minimal rasa kesukaan terhadap penelitian kita sendiri, karena kalau tidak, sayang kebaya/jas yang sudah dibeli nggak jadi dipakai :p Lalu, sebenarnya apa sih pentingnya menulis publikasi ilmiah? Kenapa kita harus melakukan publikasi ilmiah dan internasional? Mulai dari mana untuk menulis publikasi? Seperti apa hasil riset yang layak dipublikasikan?

Mengutip kata-kata dari Bapak Nasikin, publikasi ilmiah itu penting, selain mungkin sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa magister dan doktor, publikasi ilmiah juga dijadikan sebagai sumber informasi tentang riset yang dilakukan, sehingga dapat dijadikan referensi oleh orang lain. Hasil riset tersebut harus kita publikasikan agar kita dapat mengatakan kepada dunia, ini lho punya saya. Nah, lalu cari idenya biar kreatif, unik, dan menarik itu bagaimana caranya? Kata Pak Nasikin, jawabannya mudah. Kita nggak perlu cari ide yang terlalu jauh, tetapi yang ada di sekitar kita saja, yang penting hasil penelitian kita bisa menyelesaikan permasalahan bangsa. Mulai dari permasalahan simple saja yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari.

Kemudian, publlikasi ilmiah  itu juga harus bisa dipertanggungjawabkan/ dibuktikan kebenarannya, tidak bersifat spekulatif, memiliki sifat novelty (penelitian tersebut memiliki sesuatu yang baru), dan mempunyai kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Tapi gimana ya Din, cari ide penelitian yang punya novelty itu susah pake banget. Memang, susahnya cari novel ideas itu merupakan sebuah  keniscayaan, tapi bukan berarti nggak mungkin kok buat orang-orang kreatif macem kalian. Bapak Nasikin punya alurnya. Pertama, cari masalah yang mau diangkat dan utamakan masalah bangsa. Kan banyak tuh. Misalnya perbaikan teknologi, perbaikan sistem, dll. Kedua, buat ide yang kreatif, atau kalau dalam bahasa Ingris disebut nyeleneh, tapi masih realistis dan visible untuk dilakukan. Terakhir, cari tahu apa sudah ada penelitian sejenis atau belum dan buat state of art-nya.

Untuk susunan publikasi sendiri  secara umum, terdiri dari:
  1. Judul: maksimal 20 kata, menggambarkan masalah yang diselesaikan, metode yang digunakan, dan gambaran hasil riset.
  2.  Ringkasan/ abstrak: biasanya 100 – 300 kata, berisi masalah yang yang harus diselesaikan, state of art yang berisi riset terdahulu sampai saat ini, metode riset yang digunakan, dan hasil riset.
  3. Pendahuluan/ latar belakang: perluasan dari abstrak yang melingkupi masalah yang menjadi alasan dilakukannya riset tersebut, tujuan riset, state of art dimana ini menunjukkan bahwa hasil riset belum yang sama belum pernah dilakukan sebelumnya, dan metode riset yang dipakai.
  4. Metode penelitian: menjelaskan bahan yang dipakai, alat yang dipakai, variabel, prosedur pelaksanaan, dsb.
  5. Hasil dan pembahasan: menampilkan data, analisis penjelasan, membandingkan dengan data dan fenomena riset sebelumnya, analisis menggunakan teori, membuktikan novelty dari riset, dan membuktikan fenomena yang terjadi sesuai dengan kaidah ilmiah.
  6. Kesimpulan
  7. Daftar pustaka
Mudah kan? Saya harap melalui informasi tersebut saya bisa meng-encourage kalian untuk bikin publikasi ilmiah (padahal saya sendiri belum kelar-kelar bikin paper). Siapa tahu kan kalian bisa lolos screening terus bisa dapat paten atas penelitian kalian. Terlebih lagi, melalui penelitian kalian bisa menebarkan kebermanfaatan di  seluruh dunia.



Materi selanjutnya yang paling menarik dalam program kepemimpinan LPDP yang saya ikuti adalah menonton film berjudul ‘Batas’. Tidak tanggung-tanggung, kami menonton di Blitz Megaplex dimana di akhir sesi kami kedatangan pemeran utama sekaligus produser film tersebut, Marcella Zulianty, dan pemeran kepala suku, Pit Pagov, untuk melakukan diskusi terkait dengan film tersebut.


Film Batas menceritakan kisah suku Dayak di sebuah desa di pedalaman Kalimantan Barat. Pada film ini, Jaleswari (Marcella) melalukan kunjungan ke desa Entikong, yaitu daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Alasan utama Jaleswari melakukan perjalanan tersebut adalah untuk mencari tahu apa alasan program CSR di bidang pendidikan perusahaan tempat dia bekerja tidak berjalan dengan semestinya di daerah tersebut. Ternyata, hanya sedikit anak-anak yang mau mengenyam pendidikan karena masyarakat di desa tersebut memiliki kehidupan sosial sendiri. Mereka tidak mempedulikan pentingnya pendidikan dan hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan wawasan kebudayaan yang mereka junjung tinggi. Kehidupan mereka yang begitu keras merupakan salah satu faktor utama mengapa mereka lebih memilih untuk menyuruh anak-anak mereka untuk berburu, berladang, atau bahkan menjadi TKI saja di negeri tetangga yang jelas-jelas dapat menghasilkan uang.

Konflik mulai timbul ketika Jaleswari tetap menjalankan program belajar untuk anak-anak di daerah tersebut. Beberapa terror dilakukan oleh sekelompok warga yang tidak suka dengan program tersebut karena itu dianggap membahayakan bisnis jual beli TKI yang mereka lakukan. Kejadian-kejadian tersebut akhirnya membuatnya sadar untuk tidak melewati batas dan harus mengetengahkan kebudayaan di lingkungan tersebut. Jaleswari juga belajar untuk memposisikan dirinya sesuai dengan pola pikir masyarakat setempat dalam bersikap di tengah masyarakat tersebut. Selain kisah tersebut, film tersebut juga menceritakan bagaimana kondisi dua daerah (Kalimantan Barat dan Malaysia) yang memiliki suku yang masih sama tetapi kondisi ekonomi mereka sangat jauh berbeda. Dengan kondisi seperti itu, ternyata masyarakat suku Dayak masih tetap mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan tetap mempertahankan kenasionalismenya.

Film tersebut memberikan impresi yang sangat kuat kepada saya bahwa sangat mustahil kita bisa membangun bangsa tanpa memajukan aspek pendidikan. Anak-anak di daerah pedalaman dengan segala keterbatasan yang dimilikinya masih memiliki semangat yang sangat kuat untuk mengenyam pendidikan tetapi mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi unggul karena kurangnya pemerataan pembangunan di daerah mereka. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat melakukan pemerataan pembangunan, terutama di bidang pendidikan, di daerah-daerah tertinggal sehingga mereka bisa menjadi maju dan bisa menjadi salah satu pemimpin bangsa ini nantinya.


Melanjutkan postingan saya sebelumnya di sini, kali ini saya akan menceritakan sesi kedua diskusi kami mengenai pemberantasan korupsi. Pada sesi kedua ini, kami belajar mengenai korupsi melalui pendekatan media yang lain, yaitu melalui sebuah film pendek  mengenai praktek korupsi. Film yang berjudul ‘Selamat Siang, Risa!’ yang kami tonton merupakan salah satu dari empat film omnibus ‘Kita vs Korupsi’ garapan mbak Ine febriyanti sebagai sutradara dan KPK  pada tahun 2011. Film berdurasi 17 menit tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye anti korupsi yang diinisiasi oleh KPK sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Film tersebut menceritakan kisah seorang istri sekaligus ibu (Dominique Diyose) dalam mendukung tindakan kejujuran suaminya (Tora Sudiro) dalam menghindari tindakan korupsi/ fraud dalam setting tahun 1970an. Meskipun mereka berada dalam kondisi keuangan yang sulit, sang suami tetap bersikeras mempertahankan integritasnya untuk tidak mengambil uang yang ditawarkan seorang kaya yang ingin meminjam gudang tempat sang suami bekerja untuk menimbun beras dimana pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dan harga beras akan melambung tinggi.

Film yang diambil dari kisah nyata sang sutradara sewaktu masih kecil ini sungguh sangat sarat makna. Film ini mampu menjadi media yang menyampaikan pesan tentang bagaimana menjadi sosok warga yang memililki integritas tinggi dalam menjalankan values yang dianutnya dan kode etik pekerjaannya dengan ethical dilemma yang begitu pelik. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan film ini dan ketiga film ‘Kita vs Korupsi’ lainnya untuk ditonton dan disebarluaskan demi Indonesia yang lebih baik.


Pada hari ini saya dan teman-teman peserta program kepemimpinan LPDP Batch 2 mendapatkan materi yang sangat menarik, yaitu mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia. Tema ini dibagi menjadi dua sesi dengan narasumber sesi pertama adalah mantan wakil ketua KPK, Eri Riana Harja Pamungkas, dan narasumber sesi kedua adalah aktris cantik Ine Febrianti. Pada sesi pertama, Bapak Eri mengangkat ‘Combating Corruption, Integrity, and Leadership’ sebagai subjudul diskusi kami dengan menitikberatkan pada ethical leadership.

Sebelum berbicara mengenai ethical leadership, apa sih sebenarnya values, morals, dan ethics itu? Bapak Eri menjelaskan bahwa values merupakan core beliefs/ desires yang memandu dan memotivasi perilaku (attitudes) dan tindakan (actions), atau dalam kata lain values merupakan pedoman yang ada dalam diri kita. Morals adalah keyakinan individu mengenai apa yang salah dan apa yang benar serta evaluasi diri mengenai nilai-nilai dan perilaku atau biasa disebut sebagai pedoman di dalam hati. Ethics adalah pedoman-pedoman dalam berperilaku/ yang menunjukkan orang dalam berperilaku sesuai dengan nilai-nilai. Bapak Eri mengatakan bahwa dalam prakteknya, mematuhi hukum itu merupakan sesuatu yang pasti tetapi lebih baik lagi kalau kita mengandalkan etika. Dengan kata lain, apabila etika sudah kita jalankan dengan baik, otomatis semua peraturan pasti kita penuhi (etika memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepatuhan terhadap hukum).

Dalam pertumbuhan bisnis saat ini, sangat dimungkinkan orang untuk melakukan unethical practices dalam menjalankan pekerjaannya. Oleh karena itu, seorang business executive harus selalu bertanya pada dirinya dan bawahannya, apa sih sebenarnya key values dari bisnis mereka sehingga semua karyawan bisa bekerja sesuai dengan values yang dianutnya dan kode etik yang berlaku di sektor dimana dia bergerak di dalamnya, dan itulah yang disebut dengan ethical leadership.

Pelaksanaan kepemimpinan yang tidak berlandaskan dengan etika bisa menimbulkan adanya fraud. Menurut Donald R. Cressey, ada tiga faktor penyebab yang harus dihilangkan untuk menghalangi munculnya fraud yang dideskripsikan sebagai Fraud Triangle, yaitu:
  1. Opportunity: situasi yang memungkinkan fraud terjadi, misalnya karena pengawasan yang lemah, kurangnya kapasitas untuk menghasilkan mutu, kelemahan dokumentasi, ringannya balasan bagi yang melanggar, dll.
  2. Rationalization: rasionalisasi terhadap perilakukanya/ fraud yang telah dilakukan
  3. Motive/ pressure: kebutuhan akan sesuatu yang menyebabkan dilakukannya fraud, seperti desakan uang, kerja, obat, dll.

Tindakan fraud/ korupsi tersebut bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar sehingga harus segera diberantas. Oleh karena itu, diharapkan minimal setiap dari kita, sebagai seorang pemimpin, mampu melakukan managing ethical dilemma dalam kehidupan sehari-hari dengan menanamkan etika, kejujuran/integritas, dan tanggung jawab dalam setiap perilaku dan tindakan kita.

Kalau dilihat dari tindakan pemerintah terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, pemerintah telah menerapkan dua strategi besar, yaitu penindakan secara hukum dan pencegahan. Akan tetapi, usaha pemerintah ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya system yang mendukung, dokumentasi yang lengkap, pelaksanaan strategi secara menyeluruh, dan adanya keberlanjutan dimana Bapak Eri memperkirakan bahwa masih sekitar 20 tahun lagi Indonesia akan bebas dari korupsi. Lalu, solusi apa yang mungkin bisa kita lakukan dalam unethical condition? 1. Control system, 2. People’s education and development, 3. Role modeling and leadership. Oleh karena itu, sebagai calon pemimpin masa depan, kita diharapkan mampu memberikan keteladanan mulai dari sekarang dan mengkader calon generasi penerus kita nantinya.

To be continued


Pada 26 Juni 2013 kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti materi dalam program kepemimpinan yang diadakan oleh LPDP mengenai kewirausahaan sosial. Pembicara dalam materi tersebut adalah Goris Mustaqim, seorang social entrepreneur muda yang sudah meng-empower masyarakat Garut melalui bisnis-bisnis sosialnya. Setelah lulus dari ITB, Mas Goris beserta beberapa kawannya mendirikan sebuah startup bisnis yang yang juga mengangkat visi sosial di dalamnya. Bisnis sosial yang didirikan oleh Mas Goris pada tahun 2007 adalah Asgar Muda (Asal Garut Muda) dimana bisnis ini ditujukan untuk membangun potensi daerah Garut dengan fokus pada bidang pendidikan.

Saat ini Indonesia memiliki populasi sebesar 238 juta orang dengan 36,4% dari populasi tersebut adalah pemuda dan memiliki 113,74 juta angkatan kerja. Melihat data tersebut, Mas Goris berkata bahwa sudah banyak riset yang mengatakan bahwa ada korelasi yang sangat erat antara sebuah bangsa yang muda atau memiliki demografi yang muda (bangsa yang memiliki banyak pemuda) dengan kemajuan Negara. Oleh karena itu, social enterprise merupakan salah satu solusi kreatif sebagai upaya dalam mengatasi masalah sosial dengan pendekatan kewirausahaan. Dalam hal ini social enterprise bukan berarti kita mengkomersialkan kata ‘sosial’, tetapi lebih kepada bagaimana sosial tersebut bisa diberdayakan supaya bisa sekaligus menghasilkan income dengan cara menanamkan visi sosial ke dalam visi/ objektif bisnis kita. Selain itu, dalam pelaksanaannya, permasalahan perekonomian dalam masyarakat tidak harus diselesaikan dengan pemberian dana atau modal secara langsung (direct funding), tetapi Mas Goris juga meningkatkan perekonomian masyarakat Garut dengan pemberian empowerment kepada masyarakat untuk memiliki kesadaran dan motivasi sendiri dalam meningkatkan taraf hidupnya secara bersama-sama.


Dalam pembuatan bisnis sosial, ada beberapa aspek penting yang perlu diperhitungkan, yaitu design thinking terhadap masalah sosial yang ingin diselesaikan, pembuatan bisnis model, pendekatan sosial melalui community engagement, project management, dan dampak yang dihasilkan dari social enterprise tersebut. Selain itu, Mas Goris juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam membuat sebuah social enterprise bukan terletak pada ide bisnisnya, tetapi lebih kepada bagaimana eksekusi bisnis tersebut. Kemampuan dalam berbisnis juga bukan hambatan utama dalam membuat sebuah ide baru karena orang yang sukses dalam berbisnis itu bukan hanya orang yang memiliki bakat berdagang saja, tetapi kemampuan tersebut bisa dimiliki oleh semua orang yang bekerja keras dan mau mencari pengalaman. Untuk melatih itu, kita bisa bergabung dalam komunitas atau teman-teman yang juga berwirausaha, menjalin banyak koneksi, dan memiliki mentor yang bisa membantu dan memberi arahan dalam berbisnis.


Mungkin sebagian dari kalian masih ada yang belum pernah mendengar mengenai LPDP, atau sudah pernah dengar tetapi masih belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang memotivasi didirikannya LPDP, apa tujuannya, atau dari mana sih sumber dananya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai LPDP dan apa kebermanfaatannya untuk anak bangsa yang saya rangkum dari hasil diskusi dengan Bapak Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP.

Apabila kita melihat hasil riset yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia di pasar global pada September 2012 lalu, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melejit pesat pada tahun 2030 mendatang. Peningkatan tersebut disebabkan oleh konsumsi domestik dan pertumbuhan produktivitas [1]. Indonesia yang saat ini menduduki ranking ke-16 besar perekonomian terbesar di dunia diperkirakan akan meningkat menjadi ranking ke-7 pada 2030. Selain itu, saat ini 53% dari populasi di kota menyumbang 74% PDB dimana ada 55 juta tenaga kerja terdidik yang dibutuhkan, sedangkan pada 2030 diperkirakan ada peningkatan hingga 34% pada populasi di kota yang akan menyumbang hingga 86% PDB dimana aka nada peningkatan hingga dua kali lipatnya pada tenaga terdidik yang dibutuhkan [1].

Berdasarkan hasil riset tersebut, LPDP hadir dengan harapan mampu mengisi gap yang ada dengan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa sebagai agent of change yang bisa mengarahkan Indonesia untuk bisa mendekati kemajuan yang telah diprediksikan. Akan tetapi, dalam proses pengembangan itu sendiri terdapat beberapa persoalan yang harus diselesaikan, yaitu:

  1.  Rendahnya kualitas dan kuantitas manusia terdidik
    Menurut DIKTI pada tahun 2011, di Indonesia saat ini hanya ada 98 orang doktor per satu juta penduduk. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan lulusan doktor di Australia sebanyak 118.396 pada tahun yang sama [2].
  2. Komposisi lulusan perguruan tinggi yang tidak ideal
    Lulusan perguruan tinggi dianggap masih belum mumpuni untuk bisa berkiprah di lapangan. Contohnya saja saat ini masyarakat masih menggunakan gadget buatan luar negeri dikarenakan kurangnya kemampuan para lulusan teknik untuk bisa bersaing di sektor industri.
  3. Rendahnya dana riset dan hasil karya ilmiah inovatif
    Sampai saat ini Indonesia masih mengalokasikan 0.07% dari PDB untuk riset dimana Negara-negara lain sudah mengalokasi dana dengan persentase yang jauh lebih besar dari itu. Pada tahun 2010 Israel telah mengalokasikan 4.40%, Finlandia mengalokasikan 3.88%, Korea mengalokasikan 3.74%, dan Swedia mengalokasikan sebesar 3.40% dari PDB Negara [3].
  4. Tingginya resiko bencana alam
    Indonesia termasuk ke dalam Negara yang memiliki resiko bencana alam yang tinggi, yaitu peringkat pertama Negara yang memiliki resiko tsunami di dunia, peringkat ketiga Negara yang memiliki resiko gempa di dunia, dan peringkat keenam Negara yang memiliki resiko banjir tertinggi di dunia.
Untuk itulah LPDP hadir sebagai upaya untuk membantu mengurangi permasalahan yang ada tersebut dengan memberikan tiga jenis layanan pendanaan, yaitu pendidikan tingkat lanjut dalam bentuk beasiswa, penelitian di bidang-bidang strategis, dan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak karena bencana alam. Untuk beasiswa, LPDP baru memberikan dana untuk program magister dan doktor, baik dalam maupun luar negeri, serta beasiswa penyelesaian studi (skripsi dan thesis).

Lalu, dari mana dana yang didapat LPDP untuk keperluan pendidikan ini? Sumber dananya sendiri berasal dari dana abadi yang diambil dari sebagian anggaran pendidikan yang sudah dialokasikan dalam APBN. Alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN tersebut dibagi-bagi ke dalam beberapa keperluan pendidikan, yaitu sebagian besar diberikan ke pemerintah daerah; sebagiannya lagi ke kemendikbud, kemenag, dan kementrian lain; sedangkan sisanya dijadikan dana abadi yang kemudian dikelola oleh LPDP melalui tiga layanan tersebut. Mulai tahun 2010 hingga tahun ini total dana abadi yang tersisihkan adalah sebesar 15 triliun dan diharapkan tahun depan bisa meningkat hingga 20 triliun.

Sumber:
[1] McKinsey Global Institute. 2012. The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential. Available at: http://www.mckinsey.com/insights/asia-pacific/the_archipelago_economy (accessed in 26 June 2013).
[2] Group of Eight. 2013. The Changing PhD. Available at: http://www.go8.edu.au/__documents/go8-policy-analysis/2013/the-changing-phd_final.pdf (accessed in 26 June 2013).

[3] World Bank. 2013. Research and Development Expenditure (% of GDP).  Available at: http://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS (accessed in 27 June 2013).

About the writer

Hello! I am Dinur Rahmani Sadat || Just graduated from Universitas Indonesia || A dreamer and dream achiever || Lecturer and IT Consultant wanna be || Drawing and reading for pleasure || LPDP scholarship candidate

Tag Cloud

Cool Labels by CBT