Pada 26 Juni 2013 kemarin saya
berkesempatan untuk mengikuti materi dalam program kepemimpinan yang diadakan
oleh LPDP mengenai kewirausahaan sosial. Pembicara dalam materi tersebut adalah
Goris Mustaqim, seorang social entrepreneur
muda yang sudah meng-empower
masyarakat Garut melalui bisnis-bisnis sosialnya. Setelah lulus dari ITB, Mas
Goris beserta beberapa kawannya mendirikan sebuah startup bisnis yang yang juga
mengangkat visi sosial di dalamnya. Bisnis sosial yang didirikan oleh Mas Goris
pada tahun 2007 adalah Asgar Muda (Asal Garut Muda) dimana bisnis ini ditujukan
untuk membangun potensi daerah Garut dengan fokus pada bidang pendidikan.
Saat ini Indonesia memiliki populasi
sebesar 238 juta orang dengan 36,4% dari populasi tersebut adalah pemuda dan
memiliki 113,74 juta angkatan kerja. Melihat data tersebut, Mas Goris berkata
bahwa sudah banyak riset yang mengatakan bahwa ada korelasi yang sangat erat
antara sebuah bangsa yang muda atau memiliki demografi yang muda (bangsa yang
memiliki banyak pemuda) dengan kemajuan Negara. Oleh karena itu, social
enterprise merupakan salah satu solusi kreatif sebagai upaya dalam mengatasi
masalah sosial dengan pendekatan kewirausahaan. Dalam hal ini social enterprise
bukan berarti kita mengkomersialkan kata ‘sosial’, tetapi lebih kepada bagaimana
sosial tersebut bisa diberdayakan supaya bisa sekaligus menghasilkan income dengan cara menanamkan visi
sosial ke dalam visi/ objektif bisnis kita. Selain itu, dalam pelaksanaannya, permasalahan
perekonomian dalam masyarakat tidak harus diselesaikan dengan pemberian dana
atau modal secara langsung (direct
funding), tetapi Mas Goris juga meningkatkan perekonomian masyarakat Garut dengan
pemberian empowerment kepada masyarakat
untuk memiliki kesadaran dan motivasi sendiri dalam meningkatkan taraf hidupnya
secara bersama-sama.
Dalam pembuatan bisnis sosial,
ada beberapa aspek penting yang perlu diperhitungkan, yaitu design thinking
terhadap masalah sosial yang ingin diselesaikan, pembuatan bisnis model, pendekatan
sosial melalui community engagement, project management, dan dampak yang
dihasilkan dari social enterprise tersebut. Selain itu, Mas Goris juga
mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam membuat sebuah social enterprise
bukan terletak pada ide bisnisnya, tetapi lebih kepada bagaimana eksekusi
bisnis tersebut. Kemampuan dalam berbisnis juga bukan hambatan utama dalam
membuat sebuah ide baru karena orang yang sukses dalam berbisnis itu bukan hanya
orang yang memiliki bakat berdagang saja, tetapi kemampuan tersebut bisa dimiliki
oleh semua orang yang bekerja keras dan mau mencari pengalaman. Untuk melatih
itu, kita bisa bergabung dalam komunitas atau teman-teman yang juga
berwirausaha, menjalin banyak koneksi, dan memiliki mentor yang bisa membantu
dan memberi arahan dalam berbisnis.
0 comments:
Post a Comment