Mungkin sebagian dari kalian
masih ada yang belum pernah mendengar mengenai LPDP, atau sudah pernah dengar
tetapi masih belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang
memotivasi didirikannya LPDP, apa tujuannya, atau dari mana sih sumber dananya.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai LPDP dan apa kebermanfaatannya untuk anak bangsa yang saya rangkum dari hasil diskusi dengan Bapak Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP.
Apabila kita melihat hasil riset yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia di pasar global pada September 2012 lalu, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melejit pesat pada tahun 2030 mendatang. Peningkatan tersebut disebabkan oleh konsumsi domestik dan pertumbuhan produktivitas [1]. Indonesia yang saat ini menduduki ranking ke-16 besar perekonomian terbesar di dunia diperkirakan akan meningkat menjadi ranking ke-7 pada 2030. Selain itu, saat ini 53% dari populasi di kota menyumbang 74% PDB dimana ada 55 juta tenaga kerja terdidik yang dibutuhkan, sedangkan pada 2030 diperkirakan ada peningkatan hingga 34% pada populasi di kota yang akan menyumbang hingga 86% PDB dimana aka nada peningkatan hingga dua kali lipatnya pada tenaga terdidik yang dibutuhkan [1].
Berdasarkan hasil riset tersebut, LPDP hadir dengan harapan mampu mengisi gap yang ada dengan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa sebagai agent of change yang bisa mengarahkan Indonesia untuk bisa mendekati kemajuan yang telah diprediksikan. Akan tetapi, dalam proses pengembangan itu sendiri terdapat beberapa persoalan yang harus diselesaikan, yaitu:
- Rendahnya
kualitas dan kuantitas manusia terdidik
Menurut DIKTI pada tahun 2011, di Indonesia saat ini hanya ada 98 orang doktor per satu juta penduduk. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan lulusan doktor di Australia sebanyak 118.396 pada tahun yang sama [2]. - Komposisi
lulusan perguruan tinggi yang tidak ideal
Lulusan perguruan tinggi dianggap masih belum mumpuni untuk bisa berkiprah di lapangan. Contohnya saja saat ini masyarakat masih menggunakan gadget buatan luar negeri dikarenakan kurangnya kemampuan para lulusan teknik untuk bisa bersaing di sektor industri. - Rendahnya
dana riset dan hasil karya ilmiah inovatif
Sampai saat ini Indonesia masih mengalokasikan 0.07% dari PDB untuk riset dimana Negara-negara lain sudah mengalokasi dana dengan persentase yang jauh lebih besar dari itu. Pada tahun 2010 Israel telah mengalokasikan 4.40%, Finlandia mengalokasikan 3.88%, Korea mengalokasikan 3.74%, dan Swedia mengalokasikan sebesar 3.40% dari PDB Negara [3]. - Tingginya
resiko bencana alam
Indonesia termasuk ke dalam Negara yang memiliki resiko bencana alam yang tinggi, yaitu peringkat pertama Negara yang memiliki resiko tsunami di dunia, peringkat ketiga Negara yang memiliki resiko gempa di dunia, dan peringkat keenam Negara yang memiliki resiko banjir tertinggi di dunia.
Untuk itulah LPDP hadir sebagai
upaya untuk membantu mengurangi permasalahan yang ada tersebut dengan
memberikan tiga jenis layanan pendanaan, yaitu pendidikan tingkat lanjut dalam
bentuk beasiswa, penelitian di bidang-bidang strategis, dan rehabilitasi
fasilitas pendidikan yang rusak karena bencana alam. Untuk beasiswa, LPDP baru
memberikan dana untuk program magister dan doktor, baik dalam maupun luar
negeri, serta beasiswa penyelesaian studi (skripsi dan thesis).
Lalu, dari mana dana yang didapat LPDP untuk keperluan pendidikan ini? Sumber dananya sendiri berasal dari dana abadi yang diambil dari sebagian anggaran pendidikan yang sudah dialokasikan dalam APBN. Alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN tersebut dibagi-bagi ke dalam beberapa keperluan pendidikan, yaitu sebagian besar diberikan ke pemerintah daerah; sebagiannya lagi ke kemendikbud, kemenag, dan kementrian lain; sedangkan sisanya dijadikan dana abadi yang kemudian dikelola oleh LPDP melalui tiga layanan tersebut. Mulai tahun 2010 hingga tahun ini total dana abadi yang tersisihkan adalah sebesar 15 triliun dan diharapkan tahun depan bisa meningkat hingga 20 triliun.
Sumber:
[1] McKinsey Global Institute. 2012.
The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential. Available at: http://www.mckinsey.com/insights/asia-pacific/the_archipelago_economy
(accessed in 26 June 2013).
[2] Group of Eight. 2013. The
Changing PhD. Available at: http://www.go8.edu.au/__documents/go8-policy-analysis/2013/the-changing-phd_final.pdf
(accessed in 26 June 2013).
[3] World Bank. 2013. Research and
Development Expenditure (% of GDP). Available
at: http://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS
(accessed in 27 June 2013).
0 comments:
Post a Comment