Materi selanjutnya yang paling menarik dalam program kepemimpinan LPDP yang saya ikuti adalah menonton film berjudul ‘Batas’. Tidak tanggung-tanggung, kami menonton di Blitz Megaplex dimana di akhir sesi kami kedatangan pemeran utama sekaligus produser film tersebut, Marcella Zulianty, dan pemeran kepala suku, Pit Pagov, untuk melakukan diskusi terkait dengan film tersebut.


Film Batas menceritakan kisah suku Dayak di sebuah desa di pedalaman Kalimantan Barat. Pada film ini, Jaleswari (Marcella) melalukan kunjungan ke desa Entikong, yaitu daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Alasan utama Jaleswari melakukan perjalanan tersebut adalah untuk mencari tahu apa alasan program CSR di bidang pendidikan perusahaan tempat dia bekerja tidak berjalan dengan semestinya di daerah tersebut. Ternyata, hanya sedikit anak-anak yang mau mengenyam pendidikan karena masyarakat di desa tersebut memiliki kehidupan sosial sendiri. Mereka tidak mempedulikan pentingnya pendidikan dan hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan wawasan kebudayaan yang mereka junjung tinggi. Kehidupan mereka yang begitu keras merupakan salah satu faktor utama mengapa mereka lebih memilih untuk menyuruh anak-anak mereka untuk berburu, berladang, atau bahkan menjadi TKI saja di negeri tetangga yang jelas-jelas dapat menghasilkan uang.

Konflik mulai timbul ketika Jaleswari tetap menjalankan program belajar untuk anak-anak di daerah tersebut. Beberapa terror dilakukan oleh sekelompok warga yang tidak suka dengan program tersebut karena itu dianggap membahayakan bisnis jual beli TKI yang mereka lakukan. Kejadian-kejadian tersebut akhirnya membuatnya sadar untuk tidak melewati batas dan harus mengetengahkan kebudayaan di lingkungan tersebut. Jaleswari juga belajar untuk memposisikan dirinya sesuai dengan pola pikir masyarakat setempat dalam bersikap di tengah masyarakat tersebut. Selain kisah tersebut, film tersebut juga menceritakan bagaimana kondisi dua daerah (Kalimantan Barat dan Malaysia) yang memiliki suku yang masih sama tetapi kondisi ekonomi mereka sangat jauh berbeda. Dengan kondisi seperti itu, ternyata masyarakat suku Dayak masih tetap mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan tetap mempertahankan kenasionalismenya.

Film tersebut memberikan impresi yang sangat kuat kepada saya bahwa sangat mustahil kita bisa membangun bangsa tanpa memajukan aspek pendidikan. Anak-anak di daerah pedalaman dengan segala keterbatasan yang dimilikinya masih memiliki semangat yang sangat kuat untuk mengenyam pendidikan tetapi mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi unggul karena kurangnya pemerataan pembangunan di daerah mereka. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat melakukan pemerataan pembangunan, terutama di bidang pendidikan, di daerah-daerah tertinggal sehingga mereka bisa menjadi maju dan bisa menjadi salah satu pemimpin bangsa ini nantinya.

0 comments:

Post a Comment

About the writer

Hello! I am Dinur Rahmani Sadat || Just graduated from Universitas Indonesia || A dreamer and dream achiever || Lecturer and IT Consultant wanna be || Drawing and reading for pleasure || LPDP scholarship candidate

Tag Cloud

Cool Labels by CBT