Saya yakin pasti mostly dari kalian pernah dengar tentang publikasi ilmiah. Ya dong..Ya kan? Entah itu pernah dengar dari gosip-gosip dosen yang selalu bisa bikin mahasiswa sumringah gegara dosen nggak bisa ngajar kelas, atau pernah tahu dan lihat langsung presentasi-presentasi riset di conferences internasional meskipun sebenarnya niatnya cuma buat jalan-jalannya doang, atau bahkan pernah bikin gegara terpaksa disuruh kampus biar bisa dapet ijazah. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan sedikit share mengenai academic writing, khususnya mengenai penelitian yang dijadikan publikasi ilmiah, yang beruntung saya dapatkan dari diskusi dengan Prof. M. Nasikin, guru besar Universitas Indonesia, pada program kepemimpinan LPDP hari ini.


Kalau kata Bapak Nasikin, hal pertama yang harus kita siapkan adalah rasa kesukaan terhadap penelitian itu sendiri. Bagi yang memang punya passion di bidang research mungkin ini merupakan hal yang sudah tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, bagi teman-teman yang baca paper satu aja sudah mau lempar kursi saking eneg-nya, rasa kesukaan ini mau tidak mau harus ditumbuhkan, minimal rasa kesukaan terhadap penelitian kita sendiri, karena kalau tidak, sayang kebaya/jas yang sudah dibeli nggak jadi dipakai :p Lalu, sebenarnya apa sih pentingnya menulis publikasi ilmiah? Kenapa kita harus melakukan publikasi ilmiah dan internasional? Mulai dari mana untuk menulis publikasi? Seperti apa hasil riset yang layak dipublikasikan?

Mengutip kata-kata dari Bapak Nasikin, publikasi ilmiah itu penting, selain mungkin sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa magister dan doktor, publikasi ilmiah juga dijadikan sebagai sumber informasi tentang riset yang dilakukan, sehingga dapat dijadikan referensi oleh orang lain. Hasil riset tersebut harus kita publikasikan agar kita dapat mengatakan kepada dunia, ini lho punya saya. Nah, lalu cari idenya biar kreatif, unik, dan menarik itu bagaimana caranya? Kata Pak Nasikin, jawabannya mudah. Kita nggak perlu cari ide yang terlalu jauh, tetapi yang ada di sekitar kita saja, yang penting hasil penelitian kita bisa menyelesaikan permasalahan bangsa. Mulai dari permasalahan simple saja yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari.

Kemudian, publlikasi ilmiah  itu juga harus bisa dipertanggungjawabkan/ dibuktikan kebenarannya, tidak bersifat spekulatif, memiliki sifat novelty (penelitian tersebut memiliki sesuatu yang baru), dan mempunyai kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Tapi gimana ya Din, cari ide penelitian yang punya novelty itu susah pake banget. Memang, susahnya cari novel ideas itu merupakan sebuah  keniscayaan, tapi bukan berarti nggak mungkin kok buat orang-orang kreatif macem kalian. Bapak Nasikin punya alurnya. Pertama, cari masalah yang mau diangkat dan utamakan masalah bangsa. Kan banyak tuh. Misalnya perbaikan teknologi, perbaikan sistem, dll. Kedua, buat ide yang kreatif, atau kalau dalam bahasa Ingris disebut nyeleneh, tapi masih realistis dan visible untuk dilakukan. Terakhir, cari tahu apa sudah ada penelitian sejenis atau belum dan buat state of art-nya.

Untuk susunan publikasi sendiri  secara umum, terdiri dari:
  1. Judul: maksimal 20 kata, menggambarkan masalah yang diselesaikan, metode yang digunakan, dan gambaran hasil riset.
  2.  Ringkasan/ abstrak: biasanya 100 – 300 kata, berisi masalah yang yang harus diselesaikan, state of art yang berisi riset terdahulu sampai saat ini, metode riset yang digunakan, dan hasil riset.
  3. Pendahuluan/ latar belakang: perluasan dari abstrak yang melingkupi masalah yang menjadi alasan dilakukannya riset tersebut, tujuan riset, state of art dimana ini menunjukkan bahwa hasil riset belum yang sama belum pernah dilakukan sebelumnya, dan metode riset yang dipakai.
  4. Metode penelitian: menjelaskan bahan yang dipakai, alat yang dipakai, variabel, prosedur pelaksanaan, dsb.
  5. Hasil dan pembahasan: menampilkan data, analisis penjelasan, membandingkan dengan data dan fenomena riset sebelumnya, analisis menggunakan teori, membuktikan novelty dari riset, dan membuktikan fenomena yang terjadi sesuai dengan kaidah ilmiah.
  6. Kesimpulan
  7. Daftar pustaka
Mudah kan? Saya harap melalui informasi tersebut saya bisa meng-encourage kalian untuk bikin publikasi ilmiah (padahal saya sendiri belum kelar-kelar bikin paper). Siapa tahu kan kalian bisa lolos screening terus bisa dapat paten atas penelitian kalian. Terlebih lagi, melalui penelitian kalian bisa menebarkan kebermanfaatan di  seluruh dunia.



Materi selanjutnya yang paling menarik dalam program kepemimpinan LPDP yang saya ikuti adalah menonton film berjudul ‘Batas’. Tidak tanggung-tanggung, kami menonton di Blitz Megaplex dimana di akhir sesi kami kedatangan pemeran utama sekaligus produser film tersebut, Marcella Zulianty, dan pemeran kepala suku, Pit Pagov, untuk melakukan diskusi terkait dengan film tersebut.


Film Batas menceritakan kisah suku Dayak di sebuah desa di pedalaman Kalimantan Barat. Pada film ini, Jaleswari (Marcella) melalukan kunjungan ke desa Entikong, yaitu daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Alasan utama Jaleswari melakukan perjalanan tersebut adalah untuk mencari tahu apa alasan program CSR di bidang pendidikan perusahaan tempat dia bekerja tidak berjalan dengan semestinya di daerah tersebut. Ternyata, hanya sedikit anak-anak yang mau mengenyam pendidikan karena masyarakat di desa tersebut memiliki kehidupan sosial sendiri. Mereka tidak mempedulikan pentingnya pendidikan dan hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan wawasan kebudayaan yang mereka junjung tinggi. Kehidupan mereka yang begitu keras merupakan salah satu faktor utama mengapa mereka lebih memilih untuk menyuruh anak-anak mereka untuk berburu, berladang, atau bahkan menjadi TKI saja di negeri tetangga yang jelas-jelas dapat menghasilkan uang.

Konflik mulai timbul ketika Jaleswari tetap menjalankan program belajar untuk anak-anak di daerah tersebut. Beberapa terror dilakukan oleh sekelompok warga yang tidak suka dengan program tersebut karena itu dianggap membahayakan bisnis jual beli TKI yang mereka lakukan. Kejadian-kejadian tersebut akhirnya membuatnya sadar untuk tidak melewati batas dan harus mengetengahkan kebudayaan di lingkungan tersebut. Jaleswari juga belajar untuk memposisikan dirinya sesuai dengan pola pikir masyarakat setempat dalam bersikap di tengah masyarakat tersebut. Selain kisah tersebut, film tersebut juga menceritakan bagaimana kondisi dua daerah (Kalimantan Barat dan Malaysia) yang memiliki suku yang masih sama tetapi kondisi ekonomi mereka sangat jauh berbeda. Dengan kondisi seperti itu, ternyata masyarakat suku Dayak masih tetap mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan tetap mempertahankan kenasionalismenya.

Film tersebut memberikan impresi yang sangat kuat kepada saya bahwa sangat mustahil kita bisa membangun bangsa tanpa memajukan aspek pendidikan. Anak-anak di daerah pedalaman dengan segala keterbatasan yang dimilikinya masih memiliki semangat yang sangat kuat untuk mengenyam pendidikan tetapi mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi unggul karena kurangnya pemerataan pembangunan di daerah mereka. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat melakukan pemerataan pembangunan, terutama di bidang pendidikan, di daerah-daerah tertinggal sehingga mereka bisa menjadi maju dan bisa menjadi salah satu pemimpin bangsa ini nantinya.


Melanjutkan postingan saya sebelumnya di sini, kali ini saya akan menceritakan sesi kedua diskusi kami mengenai pemberantasan korupsi. Pada sesi kedua ini, kami belajar mengenai korupsi melalui pendekatan media yang lain, yaitu melalui sebuah film pendek  mengenai praktek korupsi. Film yang berjudul ‘Selamat Siang, Risa!’ yang kami tonton merupakan salah satu dari empat film omnibus ‘Kita vs Korupsi’ garapan mbak Ine febriyanti sebagai sutradara dan KPK  pada tahun 2011. Film berdurasi 17 menit tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye anti korupsi yang diinisiasi oleh KPK sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Film tersebut menceritakan kisah seorang istri sekaligus ibu (Dominique Diyose) dalam mendukung tindakan kejujuran suaminya (Tora Sudiro) dalam menghindari tindakan korupsi/ fraud dalam setting tahun 1970an. Meskipun mereka berada dalam kondisi keuangan yang sulit, sang suami tetap bersikeras mempertahankan integritasnya untuk tidak mengambil uang yang ditawarkan seorang kaya yang ingin meminjam gudang tempat sang suami bekerja untuk menimbun beras dimana pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dan harga beras akan melambung tinggi.

Film yang diambil dari kisah nyata sang sutradara sewaktu masih kecil ini sungguh sangat sarat makna. Film ini mampu menjadi media yang menyampaikan pesan tentang bagaimana menjadi sosok warga yang memililki integritas tinggi dalam menjalankan values yang dianutnya dan kode etik pekerjaannya dengan ethical dilemma yang begitu pelik. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan film ini dan ketiga film ‘Kita vs Korupsi’ lainnya untuk ditonton dan disebarluaskan demi Indonesia yang lebih baik.


Pada hari ini saya dan teman-teman peserta program kepemimpinan LPDP Batch 2 mendapatkan materi yang sangat menarik, yaitu mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia. Tema ini dibagi menjadi dua sesi dengan narasumber sesi pertama adalah mantan wakil ketua KPK, Eri Riana Harja Pamungkas, dan narasumber sesi kedua adalah aktris cantik Ine Febrianti. Pada sesi pertama, Bapak Eri mengangkat ‘Combating Corruption, Integrity, and Leadership’ sebagai subjudul diskusi kami dengan menitikberatkan pada ethical leadership.

Sebelum berbicara mengenai ethical leadership, apa sih sebenarnya values, morals, dan ethics itu? Bapak Eri menjelaskan bahwa values merupakan core beliefs/ desires yang memandu dan memotivasi perilaku (attitudes) dan tindakan (actions), atau dalam kata lain values merupakan pedoman yang ada dalam diri kita. Morals adalah keyakinan individu mengenai apa yang salah dan apa yang benar serta evaluasi diri mengenai nilai-nilai dan perilaku atau biasa disebut sebagai pedoman di dalam hati. Ethics adalah pedoman-pedoman dalam berperilaku/ yang menunjukkan orang dalam berperilaku sesuai dengan nilai-nilai. Bapak Eri mengatakan bahwa dalam prakteknya, mematuhi hukum itu merupakan sesuatu yang pasti tetapi lebih baik lagi kalau kita mengandalkan etika. Dengan kata lain, apabila etika sudah kita jalankan dengan baik, otomatis semua peraturan pasti kita penuhi (etika memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepatuhan terhadap hukum).

Dalam pertumbuhan bisnis saat ini, sangat dimungkinkan orang untuk melakukan unethical practices dalam menjalankan pekerjaannya. Oleh karena itu, seorang business executive harus selalu bertanya pada dirinya dan bawahannya, apa sih sebenarnya key values dari bisnis mereka sehingga semua karyawan bisa bekerja sesuai dengan values yang dianutnya dan kode etik yang berlaku di sektor dimana dia bergerak di dalamnya, dan itulah yang disebut dengan ethical leadership.

Pelaksanaan kepemimpinan yang tidak berlandaskan dengan etika bisa menimbulkan adanya fraud. Menurut Donald R. Cressey, ada tiga faktor penyebab yang harus dihilangkan untuk menghalangi munculnya fraud yang dideskripsikan sebagai Fraud Triangle, yaitu:
  1. Opportunity: situasi yang memungkinkan fraud terjadi, misalnya karena pengawasan yang lemah, kurangnya kapasitas untuk menghasilkan mutu, kelemahan dokumentasi, ringannya balasan bagi yang melanggar, dll.
  2. Rationalization: rasionalisasi terhadap perilakukanya/ fraud yang telah dilakukan
  3. Motive/ pressure: kebutuhan akan sesuatu yang menyebabkan dilakukannya fraud, seperti desakan uang, kerja, obat, dll.

Tindakan fraud/ korupsi tersebut bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar sehingga harus segera diberantas. Oleh karena itu, diharapkan minimal setiap dari kita, sebagai seorang pemimpin, mampu melakukan managing ethical dilemma dalam kehidupan sehari-hari dengan menanamkan etika, kejujuran/integritas, dan tanggung jawab dalam setiap perilaku dan tindakan kita.

Kalau dilihat dari tindakan pemerintah terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, pemerintah telah menerapkan dua strategi besar, yaitu penindakan secara hukum dan pencegahan. Akan tetapi, usaha pemerintah ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya system yang mendukung, dokumentasi yang lengkap, pelaksanaan strategi secara menyeluruh, dan adanya keberlanjutan dimana Bapak Eri memperkirakan bahwa masih sekitar 20 tahun lagi Indonesia akan bebas dari korupsi. Lalu, solusi apa yang mungkin bisa kita lakukan dalam unethical condition? 1. Control system, 2. People’s education and development, 3. Role modeling and leadership. Oleh karena itu, sebagai calon pemimpin masa depan, kita diharapkan mampu memberikan keteladanan mulai dari sekarang dan mengkader calon generasi penerus kita nantinya.

To be continued


Pada 26 Juni 2013 kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti materi dalam program kepemimpinan yang diadakan oleh LPDP mengenai kewirausahaan sosial. Pembicara dalam materi tersebut adalah Goris Mustaqim, seorang social entrepreneur muda yang sudah meng-empower masyarakat Garut melalui bisnis-bisnis sosialnya. Setelah lulus dari ITB, Mas Goris beserta beberapa kawannya mendirikan sebuah startup bisnis yang yang juga mengangkat visi sosial di dalamnya. Bisnis sosial yang didirikan oleh Mas Goris pada tahun 2007 adalah Asgar Muda (Asal Garut Muda) dimana bisnis ini ditujukan untuk membangun potensi daerah Garut dengan fokus pada bidang pendidikan.

Saat ini Indonesia memiliki populasi sebesar 238 juta orang dengan 36,4% dari populasi tersebut adalah pemuda dan memiliki 113,74 juta angkatan kerja. Melihat data tersebut, Mas Goris berkata bahwa sudah banyak riset yang mengatakan bahwa ada korelasi yang sangat erat antara sebuah bangsa yang muda atau memiliki demografi yang muda (bangsa yang memiliki banyak pemuda) dengan kemajuan Negara. Oleh karena itu, social enterprise merupakan salah satu solusi kreatif sebagai upaya dalam mengatasi masalah sosial dengan pendekatan kewirausahaan. Dalam hal ini social enterprise bukan berarti kita mengkomersialkan kata ‘sosial’, tetapi lebih kepada bagaimana sosial tersebut bisa diberdayakan supaya bisa sekaligus menghasilkan income dengan cara menanamkan visi sosial ke dalam visi/ objektif bisnis kita. Selain itu, dalam pelaksanaannya, permasalahan perekonomian dalam masyarakat tidak harus diselesaikan dengan pemberian dana atau modal secara langsung (direct funding), tetapi Mas Goris juga meningkatkan perekonomian masyarakat Garut dengan pemberian empowerment kepada masyarakat untuk memiliki kesadaran dan motivasi sendiri dalam meningkatkan taraf hidupnya secara bersama-sama.


Dalam pembuatan bisnis sosial, ada beberapa aspek penting yang perlu diperhitungkan, yaitu design thinking terhadap masalah sosial yang ingin diselesaikan, pembuatan bisnis model, pendekatan sosial melalui community engagement, project management, dan dampak yang dihasilkan dari social enterprise tersebut. Selain itu, Mas Goris juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam membuat sebuah social enterprise bukan terletak pada ide bisnisnya, tetapi lebih kepada bagaimana eksekusi bisnis tersebut. Kemampuan dalam berbisnis juga bukan hambatan utama dalam membuat sebuah ide baru karena orang yang sukses dalam berbisnis itu bukan hanya orang yang memiliki bakat berdagang saja, tetapi kemampuan tersebut bisa dimiliki oleh semua orang yang bekerja keras dan mau mencari pengalaman. Untuk melatih itu, kita bisa bergabung dalam komunitas atau teman-teman yang juga berwirausaha, menjalin banyak koneksi, dan memiliki mentor yang bisa membantu dan memberi arahan dalam berbisnis.


Mungkin sebagian dari kalian masih ada yang belum pernah mendengar mengenai LPDP, atau sudah pernah dengar tetapi masih belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang memotivasi didirikannya LPDP, apa tujuannya, atau dari mana sih sumber dananya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai LPDP dan apa kebermanfaatannya untuk anak bangsa yang saya rangkum dari hasil diskusi dengan Bapak Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP.

Apabila kita melihat hasil riset yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia di pasar global pada September 2012 lalu, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melejit pesat pada tahun 2030 mendatang. Peningkatan tersebut disebabkan oleh konsumsi domestik dan pertumbuhan produktivitas [1]. Indonesia yang saat ini menduduki ranking ke-16 besar perekonomian terbesar di dunia diperkirakan akan meningkat menjadi ranking ke-7 pada 2030. Selain itu, saat ini 53% dari populasi di kota menyumbang 74% PDB dimana ada 55 juta tenaga kerja terdidik yang dibutuhkan, sedangkan pada 2030 diperkirakan ada peningkatan hingga 34% pada populasi di kota yang akan menyumbang hingga 86% PDB dimana aka nada peningkatan hingga dua kali lipatnya pada tenaga terdidik yang dibutuhkan [1].

Berdasarkan hasil riset tersebut, LPDP hadir dengan harapan mampu mengisi gap yang ada dengan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa sebagai agent of change yang bisa mengarahkan Indonesia untuk bisa mendekati kemajuan yang telah diprediksikan. Akan tetapi, dalam proses pengembangan itu sendiri terdapat beberapa persoalan yang harus diselesaikan, yaitu:

  1.  Rendahnya kualitas dan kuantitas manusia terdidik
    Menurut DIKTI pada tahun 2011, di Indonesia saat ini hanya ada 98 orang doktor per satu juta penduduk. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan lulusan doktor di Australia sebanyak 118.396 pada tahun yang sama [2].
  2. Komposisi lulusan perguruan tinggi yang tidak ideal
    Lulusan perguruan tinggi dianggap masih belum mumpuni untuk bisa berkiprah di lapangan. Contohnya saja saat ini masyarakat masih menggunakan gadget buatan luar negeri dikarenakan kurangnya kemampuan para lulusan teknik untuk bisa bersaing di sektor industri.
  3. Rendahnya dana riset dan hasil karya ilmiah inovatif
    Sampai saat ini Indonesia masih mengalokasikan 0.07% dari PDB untuk riset dimana Negara-negara lain sudah mengalokasi dana dengan persentase yang jauh lebih besar dari itu. Pada tahun 2010 Israel telah mengalokasikan 4.40%, Finlandia mengalokasikan 3.88%, Korea mengalokasikan 3.74%, dan Swedia mengalokasikan sebesar 3.40% dari PDB Negara [3].
  4. Tingginya resiko bencana alam
    Indonesia termasuk ke dalam Negara yang memiliki resiko bencana alam yang tinggi, yaitu peringkat pertama Negara yang memiliki resiko tsunami di dunia, peringkat ketiga Negara yang memiliki resiko gempa di dunia, dan peringkat keenam Negara yang memiliki resiko banjir tertinggi di dunia.
Untuk itulah LPDP hadir sebagai upaya untuk membantu mengurangi permasalahan yang ada tersebut dengan memberikan tiga jenis layanan pendanaan, yaitu pendidikan tingkat lanjut dalam bentuk beasiswa, penelitian di bidang-bidang strategis, dan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak karena bencana alam. Untuk beasiswa, LPDP baru memberikan dana untuk program magister dan doktor, baik dalam maupun luar negeri, serta beasiswa penyelesaian studi (skripsi dan thesis).

Lalu, dari mana dana yang didapat LPDP untuk keperluan pendidikan ini? Sumber dananya sendiri berasal dari dana abadi yang diambil dari sebagian anggaran pendidikan yang sudah dialokasikan dalam APBN. Alokasi dana pendidikan sebesar 20% dari APBN tersebut dibagi-bagi ke dalam beberapa keperluan pendidikan, yaitu sebagian besar diberikan ke pemerintah daerah; sebagiannya lagi ke kemendikbud, kemenag, dan kementrian lain; sedangkan sisanya dijadikan dana abadi yang kemudian dikelola oleh LPDP melalui tiga layanan tersebut. Mulai tahun 2010 hingga tahun ini total dana abadi yang tersisihkan adalah sebesar 15 triliun dan diharapkan tahun depan bisa meningkat hingga 20 triliun.

Sumber:
[1] McKinsey Global Institute. 2012. The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential. Available at: http://www.mckinsey.com/insights/asia-pacific/the_archipelago_economy (accessed in 26 June 2013).
[2] Group of Eight. 2013. The Changing PhD. Available at: http://www.go8.edu.au/__documents/go8-policy-analysis/2013/the-changing-phd_final.pdf (accessed in 26 June 2013).

[3] World Bank. 2013. Research and Development Expenditure (% of GDP).  Available at: http://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS (accessed in 27 June 2013).

About the writer

Hello! I am Dinur Rahmani Sadat || Just graduated from Universitas Indonesia || A dreamer and dream achiever || Lecturer and IT Consultant wanna be || Drawing and reading for pleasure || LPDP scholarship candidate

Tag Cloud

Cool Labels by CBT